Loading...

Jumat, 18 Mei 2012

PENGKAJIAN FISIK PADA SISTEM SENSORI PERSEPSI


BAB II
PEMBAHASAN


A.       PENGKAJIAN PADA SISTEM SENSORI PERSEPSI MATA
Ada tiga bidang pengkajian oftalmik yang ditujukan pada system sensori persepsi mata, meliputi : pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik oftalmologi, serta diagnostic khusus oftalmologi dan prosedur refraktif.
1.      Riwayat kesehatan
Sebelum melakukan pengkajian fisik mata, perawat harus mendapatkan riwayat oftalmik, medis, dan terapi klien, dimana semuanya berperan dalam kondisi oftalmik sekarang. Informasi yang harus diperoleh meliputi informasi mengenai penurunan tajam penglihatan, upaya keamanan, dan semua hal yang terkait pada alasan melakukan pemeriksaan oftalmik.
a)   Riwayat penyakit saat ini
·         Klien ditanya tentang keluhan yang menyebabkan klien meminta pertolongan pada tim kesehatan.
·         Apakah ada riwayat kecelakaan atau kerja
·         Apakah ada riwayat oftalmik seperti fotofobia, nyeri kepala, pusing, nyeri okuler atau dahi, mata gatal.
·         Bila ada keluhan nyeri, dikaji sehubungan dengan lokasi, awitan, durasi, penurunan ketajaman penglihatan, keadaan saat nyeri timbul, upaya menguranginya dan beratnya.
·         Identifikasi penurunan gangguan tajam penglihatan atau kehilangan medan penglihatan, apakah kondisi tersebut unilateral atau bilateral.
·         Tanyakan klien apakh pernah menjalani koreksi refraksi dan pengukuran ketajaman penglihatan.
·         Apakah menggunakan lensa koreksi untuk penglihatan dekat atau jauh.
·         Asuhan yang pernah diberikan oleh spesialis mata dan frekuensinya.

b)  Riwayat penyakit dahulu
·         Tanyakan adanya riwayat pembedahan atau adanya pukulan/ benturan pada masa lalu yang menyebabkan keluhan saat ini.
·         Tanyakan tentang adanya kondisi seperti diabetes mellitus, hipertensi, PMS, anemia sel sabit, AIDS, sklerosis multiple yang dapat mengenai mata.
·         Tanaykan pada klien tentang penggunaan obat mata yang dijiaul bebas ataupun dengan resep yang dipakai.

c)   Riwayat psikososial
Pengkajian psikososial terutama penting bagi perawat untuk menanyakan pertanyaan mengenai riwayat klien, kita harus memperhitungkan efek keadaan oftalmik terhadap aktivitas klien pada kehidupan sehari – hari dan terhadap pekerjaan. Hal – hal yang perlu dikaji oleh perawat antara lain :
·         Evaluasi gaya hidup klien, jenis pekerjaan, aktivitas hiburan, dan olahraga.
·         Tanaykan apakah masalah oftalmik yang dilaporkan mengganggu fungsi yang biasa dilakukan.
·         Kaji bagaimana klien menghadapi masalah tersebut.
·         Tanyakan perasaan klien yang berhubungan dengan gangguan visual untuk mengkaji keefektifan teknik koping klien.
·         Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan klien tentang masalahnya untuk pemenuhan edukasi.

2.      Pemeriksaan fisik mata
Perawat menggunakan pendekatan sistematis, dari luar ke dalam. Struktur eksternal mata dan bola mata diperiksa terlebih dahulu, kemudian diperiksa struktur internal. Teknik yang dipergunakan adalah inspeksi dan palpasi. Inspeksi dilakuakn dengan instrument oftalmik khusus dan sumber cahaya. Palpasi dilakukan untuk mengkaji nyeri tekan mata, deformitas dan untuk mengeluarkan cairan dari puncta, serta mendeteksi secara kasar tingkat tekanan intra okuler.
a)      Postur dan gambaran klien, catat kombinasi pakaian yang tidak lazim, yang mungkin mengindikasikan colou vision defect. Demikian juga karakteristik postur yang menarik perhatian seperti mendongakan kepala yang dapat merupakan tanda sikap kompensasi untuk memperoleh pandangan yang jelas. Sebagai contoh, klien dengan double vision dapat mengangkat kepalanya ke satu sisi sebagai usaha untuk memfokuskan pandanagn menjadi satu ( Vaughan, 1999 ).
b)     Kesimetrisan mata, observasi kesimetrisan mata kanan dan kiri. Kaji kesimetrisan wajah klien untuk melihat apakah kedua mata terletak pada jarak yang sama. Kaji letak mata pada orbit. Periksa apakh salah satu mata lebih besar atau menonjol ke depan.
c)      Alis dan kelopak mata, aobservasi kuantitas dan penyebaran bulu alis. Inspeksi kelopak mata, anjurkan pasien melihat ke depan, bansingkan mata kiri dan kanan, anjurka pasien menutup kedua mata, amati bentuk dan keadaan kulit dari kedua kelopak mata, serta pinggiran kelopak mata, catat jika ada kelainan ( kemerahan ). Perhatikan keluasan mata dalam membuka, catat adanya droping kelopak mata atas atau sewaktu membuka ( ptosis ).
d)     Bulu mata, periksa bulu mata untuk posisi dan distribusinya. Selain berfungsi sebagai pelindung, juga dapat menjadi iritan bagi mata bila menjadi panjang dan salah arah. Dan hal ini dapat mengakibatkan iritan pada kornea. Orang yang emnderita depigmentasi abnormal, albinisme, infeksi kronik, dan penyakit autoimun, bulu mata akan memutih atau poliosis ( Vaughan, 1999 ).
e)      Kelenjar lakrimalis, observasi bagian kelenjar lakrimal dengan cara meretraksi kelopak mata atas dan menyuruh klien untuk melihat ke bawah. Kaji adanya edema pada kelenjar lakrimal, perawat dapat emnekan sakus lakrimalis dekat pangkal hidung untuk memeriksa adanya obstruksi duktus nasolakrimalis, jika di dalamnya terdapat peradangan akan keluar cairan pungtum lakrimalis. Punktum lakrimalis dapat diobservasi dengan cara menarik kelopak mata bawah secara halus melalui pipi. ( Potter, 2006 ).
f)       Konjungtiva dan sclera, sclera dan konjungtiva bulbaris diinspeksi secara bersama. Jika pada konjungtiva palpebra klien dicurigai kelainan, palpebra atas and bawah harus dibalik. Palpebra bawah dibalik denagn cara menarik batas atas kea rah pipi sambil klien dianjurkan untuk melihat ke atas. ( Brunner, 2002 ). Amati keadaan konjungtiva, kantong konjungtiva bagian bawah, catat bila ada pus atau warna tidak normal seperti anemis. Kaji warna sclera, pada keadaan normal berwarna putih. Warna kekuning – kuningan dapat mengindikasikan jaundis/ikterik atau masalah sistemik.
g)      Kornea, observasi dengan cara memberikan sinar secara serong dari beberapa sudut. Korne seharusnya transparan, halus, jernih dan bersinar. Observasi adanya kekeruhan yang mungkin adalah infiltrate atau sikatrik akibat trauma atau cedera. Cikatrik kornea dapat berupa nebula ( bercak seperti awan yang hanya dapat dilihat di kamar gelap dengan cahaya buatan ). Macula ( bercak putih yang dapat dilihat di kamar terang ) dan leukoma ( bercak putih seperti porselen yang dapat dilihat dari jarak jauh ). Jika klien sadar juga dapat dilakukan reflek berkedip.
h)     Pupil, amati warna iris ukuran dan bentuk pupil yang bulat dan teratur. Pupil yang tidak bulat dan teratur akibat perlengketan iris dengan lensa/kornea (sinekkia). Lanjutkan pengkajian terhadap reflek cahaya. Pupil yang normal akan berkontriksi secara reguler dan konsentris,efek tidak langsung,pupil mengecil pada penyinaran mata disebelahnya. Reaksi yang lambat atau tidak adanya reaksi dapat terjadi pada kasus peningkatan tekanan intrakranial (bentuk normal: isokor, pupil yang mengecil (<2mm) disebut miosis, amat kecil disebut : pinpoint, sedangkan yang melebar  (>5mm)disebut midriasis). Nyatakan besarnya pupil dalam mm ( normalnya 2-5mm). Pemeriksaan pupil normal biasanya didokumentasikan dan disingkat PERRLA : Pupil Equal Round and Reaktif to Light and Accomodation (pupil seimbang, bulat, dan bereaksi terhadap cahaya dan akomodasi).


3.   Pengkajian mata diagnostic
a)      Pemeriksaan fundus, dengan alat yang disebut oftalmoskop yang mempunyai tujuan untuk memeriksa bagian mata sebelah dalam yang dinamakan fundus, yang meliputi retina, evaluasi diskus optikus, pembuluh darah retina, karakteristik retina, area macula, dan humor vitreus diskus. Tujuannya adalah untuk melihat susunan retina, melihat warna retina apkah kemungkinan adanya perdarahan, mengamati pembuluh darah besar, mengamati warna macula ( yang normalnya lebih terang dari retina ), warna, batas dan pigmentasi diskus optikus ( normalnya berbebtuk melingkar, warna merah muda agak pink, batas terang dan tetap dengan jumlah pigmen yg bervariasi ).
b)     Pemeriksaan ketajaman penglihatan ( visus )
·         Snellen chart, adalah salah satu dari beberaap lat srderhana yang digunakan perawat untuk mencatat penglihatan jauh. Tulisan E atau C adalah yang sering digunakan pada kartu denagn huruf tunggal. Ketajaman penglihatan diekspresikan dalam rasio yang membandingkan dengan bagaimana seseorang dengan penglihatan normal melihat dari jarak 20 kaki dengan yang dilihat klien dari jarak 20 kaki. Ketajaman penglihatan 20/50 berarti klien dapat melihat 20 kaki jauhnya, sedangkan orang normal mampu melihat 50 kaki jauhnya. Nilai 20/200 adalah batas kebutaan legal. Klien seperti ini hanya dapat membaca dengan akurat huruf benar di baris paling atas kartu Snellen ( Vaughan, 1999 ).
·         Uji penglihatan dekat, dilakukan pada klien yang mengemukakan kesulitan membaca dan dan berusia kurang dari 40 tahun. Perawat dapt memakai Koran dengan berbagai ukuran huruf atau kartu Jaerger untuk menguji penglihatan. Kartu ini dipegang klien dengan jarak 35 cm dari mata. Klien diinstruksikan untuk membaca huruf – huruf dalam kartu. Perawat mencatat nilai jaeger yaitu baris terbawah tempat klien dapat mengindentifikasi lebih dari setiap karakter. Tajam penglihatan diuji pada tiap mata ( monocular 0, dan kemudian pada kedua mata secara bersama – sama ( binocular ).
·         Uji hitung jari, dilakukan apabila pasien tidak dapat membaca huruf terbesar. Perawat dapat menentukan ketajaman dari penglihatan pasien dengan cara meletakan jari di depan pasien dan meminta pasien menghitung jari. Jika pasien dapat menghitung atau melihat jari pemeriksa dari jarak 6 meter, maka visus adalah 6/60 atau jarak 5 meter dengan visus 5/60.
·         Uji gerak tangan, dilakukan pada pasien yang tidak dapat menghitung jari. Dapat dilakukan dengan cara menutup salah satu mata klien dan sinar lampu diarahkan pada tangan perawat. Perawat menunjukan tiga kemungkinan perintah, perintah tersebut adalah tegak berhenti, kiri ke kanan, dan atas ke bawah. Perawat menggerakan tangan dengan perlahan dan tanyakan pada klien “ ke arah mana tanagn saya sekarang”. Jika pasien dapat menjawab 3 dari 5 perintah ketajaman visus adalah 1/300 atau jark terjauh dimana pasien dapat mengidentifikasi mayoritas perintah gerakan.
·         Uji persepsi cahaya ( light perception ), dilakukan pada psien yang tidak dapat menditeksi gerak tangan. Dilakuakn pada lingkungan yang gelap, salah satu mata pasien ditutup , arahkan sinar senter pada mata yang tidak ditutup selama 1 – 2 detik. Pasien diintruksikan mengatakan hidup pada saat sinar diterima dan mati pada saat padam. Jika pasien menjawab benar 3 dari 5 perintah maka visus adalah LP, dan yang tidak dapt menditeksi disebut Non Light Perception/ NLP.
c)      Pengukuran tekanan okuler
Tonometri adalah cara pengukuran tekanan intra okuler dengan memakai alat – alat terkalibrasi yang melekukan atau meratakan apeks kornea. Tonometer adalah alat yang digunakan untuk memeriksa tekanan intraokuler ( TIO ). TIO normal adalah 10-21/24 mm Hg. Tonometri harus dilakukan pada klien berusia 40 tahun. Ada dua jenis tonometri yang digunakan untuk mengukur TIO yakni tonometer Schiotz dan tonometer Applanasi ( Vaughan,1999 ).
d)     Tonometri Schiozt, mengukur besarnya indentansi kornea yang dihasilkan oleh beban atau gaya yang telah disiapkan. Makin lunak mata, makin besar lekukan yang diakibatkan pada kornea.
e)      Tonometri Applanasi, adalah satu dari metode yang paling popular dan akurat untuk pengukuran TIO. Kuantitas kekuatan yang diperlukan dapat ditentukan. Dapat mengubah dan mengukur besarnya beban yang diperlukan untuk meratakan apeks kornea dengan beban standar. Makin tinggi TIO, makin besar beban yang dibutuhkan.
·      Pemeriksaan lapang pandang, menurut beberapa ahli merupakan suatu pemeriksaan penglihatan perifer. Pemeriksaan medan penglihatan dapat menghasilkan informasi yang mengungkapkan lesi di seluruh susunan optikus, mulai dari nervus optikus, khiasma, traktus optikus, traktus genikulo kalkarina pada tingkat lobus temporal, parietal dan oksipital. Tes konfrontasi, memakai jari sebagai objek yang harus dilihat di dalam batas medan penglihatan. Perimeter, alat diagnostic yang berbentuk lengkungan, tes dilakukan secara monocular. Objek yang dilihat oleh pasien dapat berwarna dan berukuran kecil atau besar tergantung dari sifat informasi yang hendak diungkapkan oleh tes perimeter ini.
·      Uji penglihatan warna, color vision yang normal sangat penting untuk pekerjaan tertentu. Kurang lebih 8% pria dan 0,5% wanita mengalami kelainan color vision congenital. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menguji color vision ( Vaughan, 1999 ). Alat yang paling sering digunakan adalah ISHIHARA Chart, yang berisi angka yang tersusun dari titik – titik berwarna, berada dalam lingkaran yang juga tersusun dari titik – titik warna. Uji ini sensitive untuk mendiagnosis buta warna merah atau hijau, tetapi tidak efektif untuk menditeksi kelainan warna biru.
·      Uji otot ekstraokuler, meliputi tiga komponen yaitu corneal light reflex, the six cardinal position of gaze and cover uncover test. Ketiganya untuk observasi perawat terhadap paralisme mata dan kehalusan pergerakan mata. ( Smeltzer, 2002 ).
f)       Corneal light reflex, menentukan paralelisme atau kelurusan kedua mata. Kelemahan otot ekstraokuler dapat menyebabkan deviasi okuler.
g)      The six cardinal position of gaze, menggerakan bola mata ke enam arah utama, yaitu lateral, kanan atas ( temporal ), kanan bawah, kiri klien, kiri atas, kiri bawah.
·      Diplopia, adalah pandangan ganda, selama transisi dari salah satu posisi cardinal lirikan, pemeriksa dapat mengetahui adanya salah satu atu lebih otot ekstraokuler yang gagal berfungsi dengan benar.
·      Nistagmus, suatu gerakan involunter pada mata secara mendadak ireguler seperti gerakan lirikanke posisi lateral.

B.     PENGKAJIAN PADA SISTEM SENSORI PERSEPSI TELINGA
Organ pendengaran terdiri dari telinga eksternal, telinga tengah dan telinga dalam. Gelombang suara ditransmisikan melalui liang telinga luar yang menyebabkan membrane timpani bergetar dan mengonduksi gelombang suara melalui tulang – tulang osikel telinga tengah ke organ sensori telinga dalam. Kanalis semisirkularis, vestibula, dan koklea dalam telinga tengah adalah struktur sensori pendengaran dan keseimbangan.
1.      Pengkajian riwayat kesehatan
Adapun pengkajian riwayat kesehatan yang perlu dikaji pada telinga adalah :
·         Apakah klien mengalami nyeri telinga, gatal, keluar cairan, tinnitus ( telinga berdenging ), vertigo, atau perubahan pendengaran dan perhatikan timbulnya lama serangan.
·         Perhatikan timbulnya factor pemberat dan efek pada aktivitas sehari – hari.
·         Kaji resiko masalah pendengaran yang bervariasi untuk setiap tingkatan usia, meliputi hipoksia saat kelahiran, meningitis, berat lahir kurang dari 1500g, riwayat keluarga kehilangan pendengaran, kelainan congenital dari tengkorak atau wajah, infeksi non bacterial ( rubella & herpes ) dan terpajan terus – menerus pada tingkat kebisisngan tingkat tinggi.
·         Kaji apakah klien memakai alat bantu pendengaran.
·         Tanyakan apakah klien pernah mengalami pembedahan atau trauma telinga.
·         Tentukan keterpajaan klien terhadap bunyi – bunyi keras saat bekerja dan ketersediaan alat pelindung.
·         Perhatikan perilaku yang menunjukan kehilangan pendengaran.
·         Tanyakan apakah klien minum obat – obatan ototoksik lainnya seperti aminoglikosida, furosemid, streptomicin atau aspirin dosis tinggi.
·         Tanyakan bagaimana cara klien membersihkan telinga.

2.      Pengkajian psikososial
Gangguan pendengaran dapat menyebabkan perubahan kepribadian dan sikap, kemampuan berkomunikasai, kepekaan terhadap lingkungan bahkan kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Tidak jarang individu dengan gangguan pendengaran menolak mencari pertolongan medis. Oleh karena rasa takut bahwa kehilangan pendengaran merupakan tanda usia lanjut, banyak orang yang menolak menggunakan alat bantu dengar karena merasa kurang percaya diri. Kelakuan dan sifat asal ini harus diperhitungkan ketika melakukan penyuluhan pasien yang memerlukan bantuan pendengaran. Perawat harus ingat bahwa keputusan memakai alt batu dengar adalah sangat pribadi dan sangat dipengaruhi oleh sikap dan prilaku orang tersebut.
3.      Pendekatan gerontologik
Bersamaan proses penuaan dapat terjadi perubahan dalam telinga yang kemudian dapat mengarah ke deficit pendengaran. Tanda awal kehilangan pendengaran bias meliputi tinnitus, peningkatan ketidakmampuan mendengarkan pada pertemuan kelompok, dan perlu meneraskan volume televise. Smeltzer ( 2002 ) menyatakan bahwa 25 % orang berusia antara 65 – 74 tahun dan 50% orang berusia di atas 75 tahun mengalami kesulitan pendengaran. Penyebab tidak diketahui dan ada hubungan dengan diet, metabolisme, arteriosklerosis, stress dan keturunan tidak konsisten. Factor lainnya adalah pemajanan sepanjang hidup terhadap bunyi keras, pemakaian obat – obatan, dan factor psikogenik dan proses penyakit lainnya seperti diabetes mellitus.
4.      Pemeriksaan fisik telinga
Perawat meninspeksi dan memalpasi struktur telinga luar, inspeksi telinga tengah dengan otoskop dan menguji telinga dalam dengan mengukur ketajaman pendengaran.
·         Pemeriksaan harus dimulai dengan inspeksi dan palpasi aurikula dan jaringan sekitarnya. Liang telinga juga harus diperiksa, mula – mula tanda speculum sebelum memeriksa membrane timpani. Liang telinga tidak berjalan lurus untuk meluruskannya pada pemeriksaan, pegang aurikula dan tarik sedikit ke belakang dan keatas pada orang dewasa, dan ke arah bawah pada bayi.
·         Speculum telinga yang dipegang dengan tangan digunakan bersama dengan suatu kaca kepala dan sumber cahaya. Berdinding tipis dan berbentuk corong, permukaannya besifat tidak memantulkan serta tersedia dalam berbagai ukuran. Karena lubang telinga kecil maka speculum perlu digerakan ke dalam liang telinga untuk dapat melihat seluruh membrane timpani. Otoskop bertenaga baterai dapat memperbesar pandangan terhadap membrane timpani. Otoskopi pneumatic dengan mudah menditeksi adanya perforasi membrane timpani atau cairan dalam telinga tengah.
·      Uji Webber, memanfaatkan konduksi tulang untuk menguji adanya lateralisasi suara. Sebuah garpu tala dipegang erat pada gagangnya dan pukulkan pada lutut atau pergelangan tangan pemeriksa, letakan pada dahi atau gigi pasien. Tanyakan apakah terdengar suara di tengah kepala, di telinga kanan, atau telinga kiri. Individu dengan pendengaran normal akan mendengar suara seimbang pada kedua telinga atau terpusat pada tengah kepala. Bila ada kehilangan pendengarn konduktif ( otosklerosis, otitis media ), suara akan jelas terdengar pada sisi yang sakit. Bila terjadi kehilangan sensorineural, suara akan mengalami lateralisasi ke telinga yang pendengarannya lebih baik. Uji Webber berfungsi untuk kasus kehilangan pendengaran unilateral ( Smeltzer, 2002 ).
·      Uji Rinne, gagang garputala yang bergetar diletakan di belakang aurikula pada tulang mastoid samapi pasien tidak mampu lagi mendengar suara. Kemudian pindahkan ke dekat telinga sisi yang sama. Telinga normal masih akan mendengar suara melalui hantaran udara yang menunjukan konduksi udara belangsung lebih lama dari konduksi tulang. Pada kehilangan pendengaran konduktif, konduksi tulang akan melebihi konduksi udara. Kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan suara dihantarkan melalui udara lebih baik dari tulang, meskipun keduanya merupakan konduktor yang buruk dan segala suara diterima seperti sanagt jauh dan lemah.
·      Uji Schwabach, membandingkan hantaran tulang pasien dengan pemeriksa. pasien diminta melaporkan saat penala bergetar yang ditempelkan pada mastoidnya tidak lagi dapat didengar. Pada saat itu pemeriksa memindahkan penala ke mastoidnya sendiri dan menghitung berapa lama ia masih dapat menangkap gelombang bunyi. Uji ini dikatakan normal bila hanatran tulang pasien dan pemeriksa hampir sama. Uji ini dikatakan memanjang atau meningkat bila hantaran tulang pasien lebih lama dibandingkan pemeriksa, misalnya pada kasus kehilangan pendengarn konduktif. Dan dikatakan memendek jika pemeriksa masih bias mendengar penala setelah pasien tidak lagi mendengar.
5.      Pengkajian diagnostic
Pengkajian diagnostic yang sering dilakukan adalah audiometric dan timfanometri. Terutama dilakukan pada pasien yang mempunyai riwayat penurunan fungsi pendengaran.
·      Audiometric , ada dua macam yaitu :
-          Audiometric nada murni, dimana stimulus suara terdiri dari nada murni atau music ( semakin keras nada sebelum pasien bisa mendengar berarti semakin besar kehilangan pendengaran ).
-          Audiometric wicara, dimana kata yang diucapakan digunakan untuk menentukan kemampuan mendengar dan membedakan suara
Audiogram dapat membedakan kehilangan pendengarn konduktif maupun sensorineural. Pemeriksa memakai earphone dan sinyal mengenai nada yang didengarkan. Agar hasilnya lebih akurat evaluasi audiometric dilakukan pada ruang kedap suara. Respon yang dihasilkan dicatat dalam bentuk grafik yang dinamakan audiogram.
·         Timpanografi atau audiometric impedans, mengukur reflek otot telinga tengah terhadap stimulus suara, selain kelenturan membrane timpani, dengan mengubah tekanan udara dalam kanalis telinga yang tertutup. Kelenturan akan berkurang pada penyakit telinga tengah

 DAFTAR PUSTAKA

BOIES . 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC

DANIEL G. Vaughan . 2000. Oftalmologi Umum. Jakarta : W idya Medika
GANONG, W.F. 1999. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Jakarta : EGC

MUTTQIN, ARIF. 2010. Pengkajian Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar